Senin, 23 Februari 2026

Sebelum Layar Itu Menyala

 Ada yang lebih cepat dari notifikasi: waktu yang berjalan tanpa suara.


Pagi ini tidak ada ritual. Tidak ada gelas di meja, apalagi hitam manis yang biasanya mengepul pelan sebelum kesadaran benar-benar utuh. Meja itu kosong, kecuali layar yang menyala dan kabel-kabel yang tak pernah benar-benar rapi. Aku duduk seperti biasa. Kursi ini sudah hampir tiga tahun bersamaku. Entah sudah berapa tanggal berpindah di hadapannya, entah sudah berapa keputusan kecil dan besar lahir dari atas permukaannya.


Meja ini tidak pernah bertanya.

Ia hanya menerima siku yang lelah dan jemari yang sibuk.


Dari tempat yang sama, aku mengontrol dan memantau tim. Nama-nama muncul di layar, laporan berdatangan, pesan masuk silih berganti. Rutinitas seperti aliran listrik—tidak terlihat, tapi selalu mengalir. Kadang stabil, kadang menegang.


Di rumah kecil ini, pagi tidak pernah benar-benar sunyi.


Di sela-sela kesibukan, terdengar lantunan ayat suci dari ruang sebelah. Ia memanfaatkan setiap jeda yang mungkin tak kusadari. Waktu kosong baginya bukan ruang hampa, melainkan ruang untuk kembali. Suaranya pelan, tidak mengganggu, justru seperti penanda bahwa hidup tidak hanya tentang daftar tugas dan angka-angka di layar.


Sesekali ia berhenti, mungkin berpindah halaman, mungkin menata napas. Aku tidak tahu pasti. Yang kutahu, bahkan malam nanti sudah ia pikirkan—takut jika kekasihnya tidak ikut berjamaah tarawih. Begitulah caranya mencintai: memastikan orang yang ia sayangi tetap dekat dengan cahaya.


Aku menatap layar lagi.


Di sudut lain, suara kartun bertubrukan dengan bunyi mainan yang setengah roboh. Kantor kecilku tak lagi benar-benar milikku. Ia sudah menjadi ruang bersama. Putri kecil kami sedang asyik bermain, berbicara dengan tokoh-tokoh yang hanya ia mengerti. Kadang ia tertawa sendiri, kadang terdiam, lalu kembali bersuara.


Ada saat ia meringis pelan, menahan sesuatu yang tak ingin ia akui. Dunia anak-anak memang sering sederhana, tapi tidak selalu mudah.


Aku menoleh sebentar.

Ia tidak melihatku.


Atau mungkin ia melihatku, tapi tahu aku sedang “bekerja”.


Dan di situlah sesuatu seperti jarum kecil menyentuh kesadaranku.


Berapa banyak momen yang terlewat hanya karena aku merasa masih ada waktu nanti?


Rutinitas memang memberi nafkah.

Namun ia juga diam-diam memakan hari.


Aku kembali mengetik. Membalas pesan. Mengoreksi laporan. Memastikan semuanya berjalan sebagaimana mestinya. Dari luar, semuanya terlihat normal. Keluarga kecil yang wajar. Ayah yang bekerja. Ibu yang beribadah. Anak yang bermain.


Tidak ada yang salah.


Justru mungkin terlalu biasa.


Namun di dalam kebiasaan itulah waktu bergerak paling cepat. Ia tidak berisik. Ia tidak meminta izin. Tiba-tiba satu tahun berlalu, lalu dua, lalu tiga. Kursi ini masih sama, meja ini masih setia, tetapi anak itu tidak lagi sekecil kemarin.


Aku menatap tanganku sendiri. Masih sehat. Masih mampu mengetik. Masih bisa bekerja.


Tapi apakah cukup hadir?


Pertanyaan itu tidak menuntut jawaban segera. Ia hanya duduk bersamaku, seperti bayangan yang tak ingin pergi. Aku bersyukur atas rumah kecil ini. Atas suara ayat yang menenangkan. Atas tawa kartun yang riuh. Atas mainan yang berserakan tanpa rasa bersalah.


Namun syukur kadang berjalan berdampingan dengan cemas.


Cemas bahwa suatu hari nanti, aku akan lebih banyak mengingat layar daripada wajahnya yang sedang bermain pagi ini.


Putri kecilku tiba-tiba memanggil, meminta tolong mengambilkan sesuatu yang tak bisa ia jangkau. Aku berdiri. Hanya beberapa langkah. Tidak lebih dari itu. Ia tersenyum setelah kubantu, lalu kembali pada dunianya sendiri—seolah peristiwa kecil itu sudah cukup baginya.


Aku kembali duduk.


Layar masih menyala. Pekerjaan belum selesai. Tapi barusan aku sadar: waktu tidak pernah benar-benar menunggu hingga semua tugas rampung. Ia berjalan bersamaan dengan setiap notifikasi yang masuk, dengan setiap laporan yang kutandatangani, dengan setiap alasan bahwa semuanya demi keluarga.


Meja ini tetap diam.

Kursi ini tetap setia.


Dan aku, di antara layar dan lantunan, sedang belajar satu hal yang tidak tertulis di laporan mana pun: bahwa hadir bukan hanya soal berada di ruangan yang sama, melainkan tentang kesadaran bahwa momen ini—yang terasa biasa—tidak akan pernah benar-benar terulang dengan bentuk yang sama.


Besok pagi layar itu mungkin kembali menyala seperti biasa.


Pertanyaannya tinggal satu:

sebelum ia menyala, apakah aku sudah benar-benar hadir?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar