Vietnam Drip – Aren Bite
Ada kebiasaan-kebiasaan kecil yang awalnya terasa biasa saja, lalu perlahan berubah menjadi ruang berpikir. Aktivitas ini salah satunya. Ia sering hadir di sela hari kerja, ketika saya masih harus mengontrol dan memonitor tim, memastikan semuanya berjalan sebagaimana mestinya. Tidak ada ritual khusus, hanya kopi, waktu yang sempit, dan pikiran yang terus bergerak.
Nama Vietnam Drip – Aren Bite muncul dari obrolan ringan. Seorang kolega menyebut “Vietnam drip one shoot”, dan entah kenapa istilah itu menempel cukup lama di kepala. Tapi versiku sedikit berbeda. Aren tidak dicampur ke dalam kopi. Ia dipisahkan sepenuhnya.
Kopi diminum pahit, utuh, tanpa kompromi. Sementara gula aren dicicipi perlahan, sedikit demi sedikit, seperti permen. Ada jeda di antara keduanya. Ada ruang yang sengaja dibiarkan kosong.
Di situ saya merasa tidak sekadar minum kopi, tapi sedang mengatur ritme. Seolah berkata pada diri sendiri bahwa tidak semua hal harus disatukan agar terasa seimbang. Kadang pahit memang harus dirasakan apa adanya. Kadang manis cukup disentuh pelan, tidak perlu berlebihan. Dan di antara itu semua, kita masih punya kendali.
Gambar yang sempat saya jadikan status bukan hanya ilustrasi. Ia adalah potret nyata dari ritual yang kurasakan setiap hari. Maja kedai coffe yang kujadikan meja kerja penuh nuasa dan tanggung jawab, kopi yang disajikan tanpa campuran, dan gula aren yang hadir sebagai jeda manis kecil. Semua berada berdampingan tapi tetap terpisah, persis seperti cara saya menjalani hidup dan pekerjaan.
Hidup sering kali berjalan seperti ini, meski kita jarang menyadarinya. Susah dan senang hampir selalu datang beriringan, tapi bukan berarti harus saling menutupi. Ada masa ketika beban kerja terasa berat, pikiran penuh, dan dunia bergerak terlalu cepat untuk diikuti. Namun justru di situ, ruang kecil menjadi penting, ruang untuk berhenti sejenak dan mengakui apa yang sedang kita rasakan.
Di tengah kesibukan, beban selalu ada. Ada yang terlihat jelas, ada yang diam-diam kita pikul sendiri. Tapi dunia bukan lagi tempat yang membosankan atau memuakkan. Setidaknya, saya memilih untuk tidak melihatnya seperti itu. Dunia adalah tempat yang menantang, dan tantangan selalu memberi pilihan: menyerah, bertahan, atau belajar menyesuaikan diri.
Pada akhirnya, pertanyaannya bukan hanya “ingin dikenang sebagai apa,” tapi “ingin menjalani hidup seperti apa.” Itu terdengar sederhana, tapi jawabannya tidak pernah singkat. Pilihan-pilihan kecil yang kita ambil setiap hari perlahan membentuk arah, bahkan ketika kita merasa sedang berjalan tanpa rencana.
Di sela refleksi itu, ada mimpi yang sesekali mampir. Mimpi tentang suatu hari memiliki kedai kopi pribadi. Bukan sekadar tempat menjual minuman, tapi ruang yang punya karakter dan filosofi. Tempat yang tidak sibuk menilai siapa pemiliknya, siapa yang datang, atau untuk tujuan apa seseorang duduk di sana.
Kedai yang terbuka untuk siapa saja.
Tempat orang bisa menikmati segelas kopi tanpa perlu menjelaskan dirinya. Bisa datang sendiri, bisa bersama teman. Bisa untuk bercakap panjang, bermain permainan sederhana, atau hanya duduk diam dengan tatapan kosong, memikirkan hal-hal yang bahkan sulit dirumuskan. Tidak ada tuntutan untuk produktif, tidak ada kewajiban untuk terlihat baik-baik saja.
Hanya ruang.
Ruang yang ramah, bukan hanya dari suasana, tapi juga dari harga. Tempat yang tidak membuat orang merasa asing atau kecil. Tempat yang membiarkan setiap orang hadir dengan caranya masing-masing.
Mungkin mimpi itu belum tahu kapan akan terwujud. Tapi seperti Vietnam Drip – Aren Bite, ia tidak perlu tergesa-gesa. Dalam pahit yang jujur dan manis yang dinikmati perlahan, ada pengingat bahwa hidup tidak harus selalu dicampur agar terasa seimbang. Kadang cukup diberi jarak, agar kita benar-benar bisa merasakannya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar