Selasa, 10 Februari 2026

Antara Berlabuh dan Bertahan



    
Hari yang melelahkan. Pertengahan Februari. Jam menunjukkan 22.34 ketika akhirnya saya tiba di rumah. Tubuh terasa berat, kepala penuh, dan energi seolah tersisa hanya di lapisan paling dasar. Namun, di sisa stamina mental yang masih ada, saya tetap menyempatkan diri untuk menulis—apa pun bentuknya, apa pun hasilnya. Bukan karena sedang bersemangat, justru karena hampir tidak punya semangat. Di tengah kondisi seperti ini, saya sadar bahwa menulis bukan lagi soal kenyamanan, melainkan soal bertahan pada pilihan yang telah saya ambil.

Judul sebuah buku yang sempat terbaca, Menjadi penulis itu tidak sulit, tapi rumit, memberi dorongan kecil—semacam booster yang tidak menghilangkan lelah, tetapi cukup untuk membuat saya tidak berhenti. Kali ini yang lelah bukan hanya pikiran, tetapi juga fisik. Bahkan untuk membuka laptop yang masih tersimpan di dalam tas terasa terlalu berat. Saya memilih jalan paling sederhana: menulis lewat ponsel. Di dekat meja dan kursi, alas tikar di sampingnya tampak begitu menggoda. Ia seperti pulau kecil yang menjanjikan istirahat, diam, dan lupa sejenak. Begitu nikmat dibayangkan, begitu kuat godaannya untuk berlabuh. Namun saya tahu, jika saya memilih pulau itu malam ini, maka saya sedang menunda proses yang seharusnya saya jalani.

Saya menulis karena inilah jalan yang saya pilih saat ini. Saya tidak lagi ingin mengulangi penyesalan lama—terlambat belajar, terlambat memulai, terlambat menyadari apa yang sebenarnya saya inginkan. Maka saya memaksa diri untuk tetap duduk, tetap mengetik, meski perlahan. Saya tahu jalan di depan belum jelas, masih seperti fatamorgana. Tidak sepenuhnya terlihat, tidak bisa dijelaskan dengan pasti. Tapi justru itulah proses yang harus dilewati. Menjadi versi terbaik dari diri saya bukan sesuatu yang datang tiba-tiba; ia dibangun dari keputusan-keputusan kecil yang sering kali terasa berat.

Sejak siang hari, energi saya sudah banyak terkuras. Di tengah kesibukan pekerjaan, saya menjadi tempat curhat bagi kolega. Mendengar cerita, menampung keluh, mencoba tetap hadir meski pikiran sendiri juga penuh. Sambil itu, saya harus mengontrol dan memonitor tim, memastikan pekerjaan tetap berjalan sesuai ritme. Di sela-sela kesibukan tersebut, saya menyempatkan diri membaca sebuah buku yang terasa cukup berat bagi saya. Bukan karena isinya sulit dipahami, tetapi karena menuntut analisis dan memperkenalkan istilah-istilah baru yang tidak bisa dibaca sambil lalu. Membaca seperti ini membutuhkan fokus, dan fokus menjadi sesuatu yang mahal di hari yang panjang.

Waktu terus berjalan. Hingga tiba waktu salat Magrib, barulah saya bisa menyelesaikan satu pekerjaan utama: laporan yang sempat tertunda. Setelah itu, pekerjaan lain sudah menunggu. Ada tambahan tugas dari mentor menulis—dorongan untuk mulai menyiapkan dan menerbitkan sebuah buku. Dorongan yang terdengar menggembirakan, namun di saat yang sama menambah beban pada hari yang sudah penuh. Jam menunjukkan lewat pukul sepuluh malam ketika beberapa bab akhirnya selesai ditulis. Tidak sempurna, tidak rapi sepenuhnya, tapi selesai. Dan setelah itu, barulah saya pulang.

Menulis dalam kondisi seperti ini mengajarkan saya satu hal penting: proses tidak selalu lahir dari semangat yang utuh. Kadang ia muncul dari sisa-sisa. Dari tenaga yang hampir habis, dari mata yang berat, dari keinginan kuat untuk berhenti. Namun justru di situlah nilai menulis diuji. Menulis bukan tentang menunggu waktu ideal, melainkan tentang hadir di waktu yang tidak ideal. Tentang tetap melangkah meski langkah terasa pendek.

Malam ini, tulisan ini menjadi pengingat kecil bahwa saya masih setia pada pilihan saya. Bahwa meski lelah, saya tetap datang. Bahwa meski arah belum sepenuhnya jelas, saya tidak berhenti. Mungkin hasilnya belum layak dibanggakan, tetapi prosesnya layak dihormati. Dan bagi saya, itu sudah cukup—untuk pertengahan Februari, pukul 22.34, di rumah, dengan sisa tenaga yang ada.


Kupilih Bartahan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar