Senin, 23 Februari 2026

Sebelum Layar Itu Menyala

 Ada yang lebih cepat dari notifikasi: waktu yang berjalan tanpa suara.


Pagi ini tidak ada ritual. Tidak ada gelas di meja, apalagi hitam manis yang biasanya mengepul pelan sebelum kesadaran benar-benar utuh. Meja itu kosong, kecuali layar yang menyala dan kabel-kabel yang tak pernah benar-benar rapi. Aku duduk seperti biasa. Kursi ini sudah hampir tiga tahun bersamaku. Entah sudah berapa tanggal berpindah di hadapannya, entah sudah berapa keputusan kecil dan besar lahir dari atas permukaannya.


Meja ini tidak pernah bertanya.

Ia hanya menerima siku yang lelah dan jemari yang sibuk.


Dari tempat yang sama, aku mengontrol dan memantau tim. Nama-nama muncul di layar, laporan berdatangan, pesan masuk silih berganti. Rutinitas seperti aliran listrik—tidak terlihat, tapi selalu mengalir. Kadang stabil, kadang menegang.


Di rumah kecil ini, pagi tidak pernah benar-benar sunyi.


Di sela-sela kesibukan, terdengar lantunan ayat suci dari ruang sebelah. Ia memanfaatkan setiap jeda yang mungkin tak kusadari. Waktu kosong baginya bukan ruang hampa, melainkan ruang untuk kembali. Suaranya pelan, tidak mengganggu, justru seperti penanda bahwa hidup tidak hanya tentang daftar tugas dan angka-angka di layar.


Sesekali ia berhenti, mungkin berpindah halaman, mungkin menata napas. Aku tidak tahu pasti. Yang kutahu, bahkan malam nanti sudah ia pikirkan—takut jika kekasihnya tidak ikut berjamaah tarawih. Begitulah caranya mencintai: memastikan orang yang ia sayangi tetap dekat dengan cahaya.


Aku menatap layar lagi.


Di sudut lain, suara kartun bertubrukan dengan bunyi mainan yang setengah roboh. Kantor kecilku tak lagi benar-benar milikku. Ia sudah menjadi ruang bersama. Putri kecil kami sedang asyik bermain, berbicara dengan tokoh-tokoh yang hanya ia mengerti. Kadang ia tertawa sendiri, kadang terdiam, lalu kembali bersuara.


Ada saat ia meringis pelan, menahan sesuatu yang tak ingin ia akui. Dunia anak-anak memang sering sederhana, tapi tidak selalu mudah.


Aku menoleh sebentar.

Ia tidak melihatku.


Atau mungkin ia melihatku, tapi tahu aku sedang “bekerja”.


Dan di situlah sesuatu seperti jarum kecil menyentuh kesadaranku.


Berapa banyak momen yang terlewat hanya karena aku merasa masih ada waktu nanti?


Rutinitas memang memberi nafkah.

Namun ia juga diam-diam memakan hari.


Aku kembali mengetik. Membalas pesan. Mengoreksi laporan. Memastikan semuanya berjalan sebagaimana mestinya. Dari luar, semuanya terlihat normal. Keluarga kecil yang wajar. Ayah yang bekerja. Ibu yang beribadah. Anak yang bermain.


Tidak ada yang salah.


Justru mungkin terlalu biasa.


Namun di dalam kebiasaan itulah waktu bergerak paling cepat. Ia tidak berisik. Ia tidak meminta izin. Tiba-tiba satu tahun berlalu, lalu dua, lalu tiga. Kursi ini masih sama, meja ini masih setia, tetapi anak itu tidak lagi sekecil kemarin.


Aku menatap tanganku sendiri. Masih sehat. Masih mampu mengetik. Masih bisa bekerja.


Tapi apakah cukup hadir?


Pertanyaan itu tidak menuntut jawaban segera. Ia hanya duduk bersamaku, seperti bayangan yang tak ingin pergi. Aku bersyukur atas rumah kecil ini. Atas suara ayat yang menenangkan. Atas tawa kartun yang riuh. Atas mainan yang berserakan tanpa rasa bersalah.


Namun syukur kadang berjalan berdampingan dengan cemas.


Cemas bahwa suatu hari nanti, aku akan lebih banyak mengingat layar daripada wajahnya yang sedang bermain pagi ini.


Putri kecilku tiba-tiba memanggil, meminta tolong mengambilkan sesuatu yang tak bisa ia jangkau. Aku berdiri. Hanya beberapa langkah. Tidak lebih dari itu. Ia tersenyum setelah kubantu, lalu kembali pada dunianya sendiri—seolah peristiwa kecil itu sudah cukup baginya.


Aku kembali duduk.


Layar masih menyala. Pekerjaan belum selesai. Tapi barusan aku sadar: waktu tidak pernah benar-benar menunggu hingga semua tugas rampung. Ia berjalan bersamaan dengan setiap notifikasi yang masuk, dengan setiap laporan yang kutandatangani, dengan setiap alasan bahwa semuanya demi keluarga.


Meja ini tetap diam.

Kursi ini tetap setia.


Dan aku, di antara layar dan lantunan, sedang belajar satu hal yang tidak tertulis di laporan mana pun: bahwa hadir bukan hanya soal berada di ruangan yang sama, melainkan tentang kesadaran bahwa momen ini—yang terasa biasa—tidak akan pernah benar-benar terulang dengan bentuk yang sama.


Besok pagi layar itu mungkin kembali menyala seperti biasa.


Pertanyaannya tinggal satu:

sebelum ia menyala, apakah aku sudah benar-benar hadir?

Selasa, 17 Februari 2026

Ramai yang Tidak Bertemu

Warung kopi selalu ramai menjelang sore.

Kursi-kursi berhimpitan. Suara tawa bertabrakan dengan denting sendok. Mesin kopi mendengus seperti napas orang kelelahan. Semua orang seolah berlomba mengisi waktu—berbicara cepat, bergerak cepat, hidup cepat.

Aku duduk di sudut dengan perasaan yang saling bertentangan. Di sekelilingku dunia berisik terus bekerja, tetapi di dalam kepalaku ada dunia lain yang lebih riuh.

Mereka tertawa.

Aku berpikir.

Mereka memesan minuman.

Aku menimbang hidup.

Di tengah keramaian itu, setiap orang sibuk dengan dunianya sendiri. Ada yang menatap ponsel seakan takut kehilangan sesuatu. Ada yang berbicara keras, seolah ingin diingat oleh seluruh ruangan. Ada yang diam, tetapi matanya berjalan ke mana-mana.

Aku hadir di antara mereka—bernapas dalam udara yang sama—namun seperti berada di alam berbeda.

Kadang aku berpindah dari satu dunia ke dunia lain: dari suara nyata ke suara batin, dari aroma kopi ke ingatan, dari wajah-wajah asing ke pikiran yang tak pernah benar-benar tenang.

Kopi hitam manis itu kuseruput pelan. Aromanya naik ke hidung, pahitnya singgah di lidah, manisnya datang belakangan—seperti hidup yang jarang berjalan lurus. Cangkir itu menjadi penanda bahwa aku masih ada di bumi yang sibuk ini. Bahwa aku bukan sekadar pikiran yang melayang di kepala sendiri.

Di sela hiruk-pikuk, aku tenggelam dalam tulisan. Kadang menjadi penulis yang mencipta dunia. Kadang hanya penebak cerita—menerka hidup orang-orang di meja sebelah: pasangan yang diam terlalu lama, lelaki yang tertawa terlalu keras, perempuan yang berkali-kali memeriksa jam.

Setiap orang membawa cerpennya sendiri.

Dan aku berada di antaranya.

Ada saat aku begitu sadar akan keberadaanku. Ada saat aku hilang di tengah keramaian. Dunia terasa penuh, tetapi hatiku justru sepi.

Ketika senja merayap di kaca jendela, aku sadar cangkirku telah kosong. Suara masih ramai. Tawa masih bertabrakan. Hidup masih berlari.

Aku berdiri pelan. Sesaat aku bingung—seperti lupa arah pulang. Terlalu lama berada di antara dua dunia: dunia nyata yang riuh dan dunia batin yang sunyi.

Lalu aku melangkah pergi.

Meninggalkan warung kopi yang terus bernapas tanpa peduli siapa yang datang dan siapa yang pergi.

Perasaan itu masih ada—

berisik namun hening,

penuh namun kosong.

Kadang aku berpikir, mungkin kita semua seperti pengunjung warung kopi itu. Datang membawa dunia masing-masing, duduk berdekatan tanpa benar-benar bertemu. Ramai di luar, riuh di dalam kepala. Lalu pulang dengan perasaan yang tak sempat dijelaskan.

Mungkin hidup bukan soal selalu dimengerti, melainkan tentang terus hadir—menyeruput hari demi hari, meski rasanya kadang pahit, kadang manis, sering campur aduk.

Dan mungkin, selama kita masih bisa merasakan semua itu, kita belum benar-benar hilang.

Besok sore, mungkin aku akan kembali lagi.

Minggu, 15 Februari 2026

Antara Proses dan Prioritas: Catatan Malam

 Sabtu, pukul 21:54. Malam turun perlahan, seperti seseorang yang tidak ingin mengganggu keheningan. Rumah terasa lebih sunyi dari biasanya. Tidak ada suara kendaraan yang terlalu dominan, hanya sesekali angin menyentuh sela jendela, membawa sisa-sisa hawa siang yang tadi cukup terik. Di sudut meja kerja, cahaya lampu membentuk lingkar kecil, seolah memberi ruang khusus untuk satu aktivitas sederhana: menulis.

Saya menyempatkan diri menulis malam ini. Bukan karena sedang dikejar tenggat, bukan pula karena sedang dibanjiri ide besar. Hanya untuk menjaga kebiasaan. Untuk menanamkan satu hal kecil yang mungkin suatu hari tumbuh menjadi sesuatu yang tidak saya duga. Saya belum tahu apa hasil dari proses ini. Tidak ada jaminan. Tidak ada kepastian. Tetapi saya memahami satu prinsip yang terus berulang di kepala: usaha tidak pernah mengkhianati hasil. Ia mungkin lambat, mungkin tidak selalu sesuai ekspektasi, tetapi ia bekerja dalam diam.

Biasanya hari Sabtu murni untuk keluarga. Waktu yang sengaja saya kosongkan dari urusan pekerjaan. Namun pekan ini sedikit berbeda. Kemarin ada sanak keluarga datang berkunjung, beristirahat sejenak sebelum melanjutkan perjalanan pulang kampung untuk menjenguk kedua orang tua. Rumah terasa lebih hidup kemarin. Percakapan, tawa, dan cerita perjalanan memenuhi ruang. Maka hari ini, Sabtu yang seharusnya penuh kebersamaan, saya gantikan dengan bekerja sambil tetap menjaga ritme agar tidak terasa kaku.

Sekitar pukul 13 lewat, saya memulai siang dengan apa yang saya sebut sebagai “ritual hitam manis”. Segelas vietnam drip dengan gula aren—versi saya menyebutnya vietnam drip aren bite. Ada sedikit filosofi di sana. Cara menikmatinya tidak tergesa. Tetes demi tetes kopi turun perlahan, seperti waktu yang tidak bisa dipercepat. Di luar sana orang mungkin mengenalnya sebagai vietnam drip one shot, tapi bagi saya ini lebih dari sekadar minuman. Ini semacam jeda yang disengaja.

Cuaca siang itu terasa sedikit lebih panas dari kemarin. Kemarin angin dan hujan datang silih berganti sejak pagi, membuat suasana lebih sejuk hingga malam. Hari ini berbeda—matahari seperti menegaskan kehadirannya. Panasnya memantul dari dinding dan jalanan, menciptakan atmosfer yang sedikit berat. Namun di antara panas itu, kopi panas tetap terasa relevan. Aneh memang, tapi ada kenyamanan dalam konsistensi rasa pahit-manisnya.

Sambil menyeruput kopi, saya membaca beberapa tulisan dari mereka yang lebih berpengalaman. Karya-karya yang terasa matang, terstruktur, dan jujur. Dari sana saya sadar: menulis bukan sekadar menuangkan kata, tetapi mengendapkan pikiran. Ada kedalaman yang tidak bisa dipaksa lahir dalam satu duduk.

Beberapa waktu kemudian, saya membuka laptop. Mengecek email, mengontrol monitor pekerjaan tim, memastikan semuanya berjalan sebagaimana mestinya. Rutinitas profesional tetap harus hadir, meski hari terasa lebih santai. Setelah itu, saya kembali pada draft tulisan saya sendiri. Tulisan yang sebelumnya sudah beberapa kali direvisi.

Kini tidak ada lagi arahan mentor. Tidak ada koreksi langsung. Hanya saya dan tulisan itu. Dan mungkin justru di situlah tantangannya. Ketika membaca ulang, saya melihat banyak kekurangan. Struktur yang belum rapi. Kalimat yang terlalu panjang. Gagasan yang belum sepenuhnya matang. Saya revisi lagi. Hingga revisi keenam.

Menariknya, semakin saya memperbaiki, semakin banyak pula kekurangan yang terlihat. Seolah tulisan itu membuka lapisan-lapisan baru yang sebelumnya tersembunyi. Namun anehnya, di saat yang sama, bobotnya terasa bertambah. Tidak sempurna, tetapi lebih jujur. Lebih sadar arah.

Di situlah saya menyadari sesuatu tentang psikologi proses. Ketika kita naik satu tingkat pemahaman, standar kita ikut naik. Apa yang dulu terasa cukup, kini terasa biasa saja. Apa yang dulu membanggakan, kini terlihat perlu perbaikan. Ini bukan tentang merendahkan diri, melainkan tentang berkembang. Kesadaran akan kekurangan bukan tanda kegagalan, tetapi tanda pertumbuhan.

Namun malam tidak hanya tentang tulisan.

Sebuah panggilan masuk dari orang tersayang. Nada dering sederhana itu tiba-tiba menggeser fokus saya. Ada dorongan kecil untuk menunda, untuk menyelesaikan satu paragraf lagi. Tetapi saya berhenti. Dunia saya bukan hanya layar laptop dan dokumen revisi. Ada dunia lain yang menunggu kehadiran saya. Dunia yang tidak membutuhkan tulisan yang sempurna, tetapi membutuhkan perhatian dan dukungan.

Saya memilih mengangkat telepon.

Di situlah saya kembali diingatkan bahwa keseimbangan bukan tentang membagi waktu secara matematis, melainkan tentang kesadaran hadir sepenuhnya di setiap peran. Menjadi profesional ketika bekerja. Menjadi penulis ketika menulis. Menjadi sandaran ketika dibutuhkan.

Angin malam kembali bergerak pelan di luar. Kopi tinggal sisa ampas. Laptop masih terbuka, revisi keenam belum benar-benar selesai. Tapi hati terasa lebih utuh. Karena proses hari ini bukan hanya tentang memperbaiki tulisan, melainkan juga memperbaiki cara saya memaknai prioritas.

Mungkin hasil dari kebiasaan menulis ini belum terlihat sekarang. Mungkin masih jauh. Namun setiap Sabtu malam, setiap tegukan ritual hitam manis, setiap revisi yang terasa melelahkan—semuanya sedang membentuk sesuatu.

Dan untuk saat ini, itu sudah cukup.

Selasa, 10 Februari 2026

Antara Berlabuh dan Bertahan



    
Hari yang melelahkan. Pertengahan Februari. Jam menunjukkan 22.34 ketika akhirnya saya tiba di rumah. Tubuh terasa berat, kepala penuh, dan energi seolah tersisa hanya di lapisan paling dasar. Namun, di sisa stamina mental yang masih ada, saya tetap menyempatkan diri untuk menulis—apa pun bentuknya, apa pun hasilnya. Bukan karena sedang bersemangat, justru karena hampir tidak punya semangat. Di tengah kondisi seperti ini, saya sadar bahwa menulis bukan lagi soal kenyamanan, melainkan soal bertahan pada pilihan yang telah saya ambil.

Judul sebuah buku yang sempat terbaca, Menjadi penulis itu tidak sulit, tapi rumit, memberi dorongan kecil—semacam booster yang tidak menghilangkan lelah, tetapi cukup untuk membuat saya tidak berhenti. Kali ini yang lelah bukan hanya pikiran, tetapi juga fisik. Bahkan untuk membuka laptop yang masih tersimpan di dalam tas terasa terlalu berat. Saya memilih jalan paling sederhana: menulis lewat ponsel. Di dekat meja dan kursi, alas tikar di sampingnya tampak begitu menggoda. Ia seperti pulau kecil yang menjanjikan istirahat, diam, dan lupa sejenak. Begitu nikmat dibayangkan, begitu kuat godaannya untuk berlabuh. Namun saya tahu, jika saya memilih pulau itu malam ini, maka saya sedang menunda proses yang seharusnya saya jalani.

Saya menulis karena inilah jalan yang saya pilih saat ini. Saya tidak lagi ingin mengulangi penyesalan lama—terlambat belajar, terlambat memulai, terlambat menyadari apa yang sebenarnya saya inginkan. Maka saya memaksa diri untuk tetap duduk, tetap mengetik, meski perlahan. Saya tahu jalan di depan belum jelas, masih seperti fatamorgana. Tidak sepenuhnya terlihat, tidak bisa dijelaskan dengan pasti. Tapi justru itulah proses yang harus dilewati. Menjadi versi terbaik dari diri saya bukan sesuatu yang datang tiba-tiba; ia dibangun dari keputusan-keputusan kecil yang sering kali terasa berat.

Sejak siang hari, energi saya sudah banyak terkuras. Di tengah kesibukan pekerjaan, saya menjadi tempat curhat bagi kolega. Mendengar cerita, menampung keluh, mencoba tetap hadir meski pikiran sendiri juga penuh. Sambil itu, saya harus mengontrol dan memonitor tim, memastikan pekerjaan tetap berjalan sesuai ritme. Di sela-sela kesibukan tersebut, saya menyempatkan diri membaca sebuah buku yang terasa cukup berat bagi saya. Bukan karena isinya sulit dipahami, tetapi karena menuntut analisis dan memperkenalkan istilah-istilah baru yang tidak bisa dibaca sambil lalu. Membaca seperti ini membutuhkan fokus, dan fokus menjadi sesuatu yang mahal di hari yang panjang.

Waktu terus berjalan. Hingga tiba waktu salat Magrib, barulah saya bisa menyelesaikan satu pekerjaan utama: laporan yang sempat tertunda. Setelah itu, pekerjaan lain sudah menunggu. Ada tambahan tugas dari mentor menulis—dorongan untuk mulai menyiapkan dan menerbitkan sebuah buku. Dorongan yang terdengar menggembirakan, namun di saat yang sama menambah beban pada hari yang sudah penuh. Jam menunjukkan lewat pukul sepuluh malam ketika beberapa bab akhirnya selesai ditulis. Tidak sempurna, tidak rapi sepenuhnya, tapi selesai. Dan setelah itu, barulah saya pulang.

Menulis dalam kondisi seperti ini mengajarkan saya satu hal penting: proses tidak selalu lahir dari semangat yang utuh. Kadang ia muncul dari sisa-sisa. Dari tenaga yang hampir habis, dari mata yang berat, dari keinginan kuat untuk berhenti. Namun justru di situlah nilai menulis diuji. Menulis bukan tentang menunggu waktu ideal, melainkan tentang hadir di waktu yang tidak ideal. Tentang tetap melangkah meski langkah terasa pendek.

Malam ini, tulisan ini menjadi pengingat kecil bahwa saya masih setia pada pilihan saya. Bahwa meski lelah, saya tetap datang. Bahwa meski arah belum sepenuhnya jelas, saya tidak berhenti. Mungkin hasilnya belum layak dibanggakan, tetapi prosesnya layak dihormati. Dan bagi saya, itu sudah cukup—untuk pertengahan Februari, pukul 22.34, di rumah, dengan sisa tenaga yang ada.


Kupilih Bartahan

Jumat, 06 Februari 2026

Ritual Hitam Manis

 Vietnam Drip – Aren Bite

Ada kebiasaan-kebiasaan kecil yang awalnya terasa biasa saja, lalu perlahan berubah menjadi ruang berpikir. Aktivitas ini salah satunya. Ia sering hadir di sela hari kerja, ketika saya masih harus mengontrol dan memonitor tim, memastikan semuanya berjalan sebagaimana mestinya. Tidak ada ritual khusus, hanya kopi, waktu yang sempit, dan pikiran yang terus bergerak.


Nama Vietnam Drip – Aren Bite muncul dari obrolan ringan. Seorang kolega menyebut “Vietnam drip one shoot”, dan entah kenapa istilah itu menempel cukup lama di kepala. Tapi versiku sedikit berbeda. Aren tidak dicampur ke dalam kopi. Ia dipisahkan sepenuhnya.


Kopi diminum pahit, utuh, tanpa kompromi. Sementara gula aren dicicipi perlahan, sedikit demi sedikit, seperti permen. Ada jeda di antara keduanya. Ada ruang yang sengaja dibiarkan kosong.


Di situ saya merasa tidak sekadar minum kopi, tapi sedang mengatur ritme. Seolah berkata pada diri sendiri bahwa tidak semua hal harus disatukan agar terasa seimbang. Kadang pahit memang harus dirasakan apa adanya. Kadang manis cukup disentuh pelan, tidak perlu berlebihan. Dan di antara itu semua, kita masih punya kendali.


Gambar yang sempat saya jadikan status bukan hanya ilustrasi. Ia adalah potret nyata dari ritual yang kurasakan setiap hari. Maja kedai coffe yang kujadikan  meja kerja penuh nuasa dan tanggung jawab, kopi yang disajikan tanpa campuran, dan gula aren yang hadir sebagai jeda manis kecil. Semua berada berdampingan tapi tetap terpisah, persis seperti cara saya menjalani hidup dan pekerjaan.


Hidup sering kali berjalan seperti ini, meski kita jarang menyadarinya. Susah dan senang hampir selalu datang beriringan, tapi bukan berarti harus saling menutupi. Ada masa ketika beban kerja terasa berat, pikiran penuh, dan dunia bergerak terlalu cepat untuk diikuti. Namun justru di situ, ruang kecil menjadi penting, ruang untuk berhenti sejenak dan mengakui apa yang sedang kita rasakan.


Di tengah kesibukan, beban selalu ada. Ada yang terlihat jelas, ada yang diam-diam kita pikul sendiri. Tapi dunia bukan lagi tempat yang membosankan atau memuakkan. Setidaknya, saya memilih untuk tidak melihatnya seperti itu. Dunia adalah tempat yang menantang, dan tantangan selalu memberi pilihan: menyerah, bertahan, atau belajar menyesuaikan diri.


Pada akhirnya, pertanyaannya bukan hanya “ingin dikenang sebagai apa,” tapi “ingin menjalani hidup seperti apa.” Itu terdengar sederhana, tapi jawabannya tidak pernah singkat. Pilihan-pilihan kecil yang kita ambil setiap hari perlahan membentuk arah, bahkan ketika kita merasa sedang berjalan tanpa rencana.


Di sela refleksi itu, ada mimpi yang sesekali mampir. Mimpi tentang suatu hari memiliki kedai kopi pribadi. Bukan sekadar tempat menjual minuman, tapi ruang yang punya karakter dan filosofi. Tempat yang tidak sibuk menilai siapa pemiliknya, siapa yang datang, atau untuk tujuan apa seseorang duduk di sana.


Kedai yang terbuka untuk siapa saja.


Tempat orang bisa menikmati segelas kopi tanpa perlu menjelaskan dirinya. Bisa datang sendiri, bisa bersama teman. Bisa untuk bercakap panjang, bermain permainan sederhana, atau hanya duduk diam dengan tatapan kosong, memikirkan hal-hal yang bahkan sulit dirumuskan. Tidak ada tuntutan untuk produktif, tidak ada kewajiban untuk terlihat baik-baik saja.


Hanya ruang.


Ruang yang ramah, bukan hanya dari suasana, tapi juga dari harga. Tempat yang tidak membuat orang merasa asing atau kecil. Tempat yang membiarkan setiap orang hadir dengan caranya masing-masing.


Mungkin mimpi itu belum tahu kapan akan terwujud. Tapi seperti Vietnam Drip – Aren Bite, ia tidak perlu tergesa-gesa. Dalam pahit yang jujur dan manis yang dinikmati perlahan, ada pengingat bahwa hidup tidak harus selalu dicampur agar terasa seimbang. Kadang cukup diberi jarak, agar kita benar-benar bisa merasakannya.


Rabu, 04 Februari 2026

A Dream Delayed, Not Lost

Bismillah.


Awal tahun sering kali menjadi waktu yang tepat untuk berhenti sejenak. Menarik napas, menengok ke belakang, lalu bertanya pelan-pelan pada diri sendiri: sejauh apa hidup sudah berjalan, dan mimpi apa saja yang pernah kita simpan, tapi belum sempat kita kejar.


Di awal 2026 ini, pertanyaan itu datang lagi. Mengingatkanku pada satu mimpi lama yang lahir sekitar tahun 2012. Mimpi yang sederhana, tapi cukup besar: menjadi seorang penulis. Bukan penulis terkenal, bukan juga yang karyanya ada di mana-mana. Cukup menulis dengan jujur, konsisten, dan punya makna.


Namun waktu berjalan. Terlalu banyak hal dipikirkan, terlalu banyak rencana yang telah disusun, dan terlalu banyak mimpi ingin dikejar dalam satu waktu. Pada akhirnya, langkah justru melambat. Menulis tetap ada, tapi tidak pernah benar-benar berlanjut.


Hari ini, hidup sudah berada di fase yang berbeda. Peran bertambah, tanggung jawab pun ikut membesar. Ritme hidup tidak lagi sama seperti sepuluh tahun lalu. Fokus tidak hanya tentang diri sendiri, tapi juga tentang keluarga, pekerjaan, dan masa depan yang lebih luas.


Apakah menyesal? Tidak sepenuhnya. Saya percaya setiap orang punya waktunya masing-masing. Banyak hal yang tidak bisa dipaksakan, dan tidak semua proses harus lurus ke depan. Ada yang berbelok, ada yang berhenti sebentar, lalu lanjut lagi dengan cara yang berbeda.


Beberapa waktu lalu, saya mengikuti sebuah kegiatan yang diadakan oleh perusahaanku. Di sana, ada satu percakapan sederhana yang cukup membekas. Seorang peserta bertanya tentang mimpi yang tertinggal: apakah masih ada kata terlambat untuk mengejar mimpi yang sudah lama ditunda?


Jawabannya terdengar sederhana, bahkan mungkin klise. Intinya, selama kita masih punya waktu dan kemauan untuk belajar, selalu ada ruang untuk memulai kembali. Selama usia masih berjalan dan rasa ingin tahu belum padam, belajar hal baru—atau kembali ke mimpi lama—bukanlah kesalahan.


Jawaban itu terasa sangat relevan. Bukan karena terdengar hebat, tapi karena jujur. Hidup tidak selalu tentang siapa yang paling cepat, tapi siapa yang mau terus bergerak, meski pelan.


Beberapa hari setelah kegiatan itu, ada hal kecil yang terjadi. Sebuah hadiah sederhana dari panitia, tidak besar, tidak juga istimewa secara materi. Tapi cukup untuk memberi pengingat: bahwa sesuatu yang terlihat kecil hari ini bisa punya arti di kemudian hari. Bahwa proses yang konsisten, meski pelan, sering kali lebih penting daripada lompatan besar yang tidak berlanjut.


Dari situ saya sampai pada satu kesimpulan sederhana. Mungkin kita tidak benar-benar terlambat. Mungkin kita hanya sedang berjalan dengan ritme yang berbeda. Ritme yang menyesuaikan dengan hidup, bukan melawannya.


Tidak semua mimpi harus dikejar dengan tergesa-gesa. Ada mimpi yang cukup disimpan, dirawat diam-diam, sambil kita menjalani fase hidup yang lain. Hingga suatu hari, kita merasa cukup siap untuk mendekatinya kembali—dengan versi diri yang sudah lebih matang.


Di titik ini, saya tidak ingin memasang target yang terlalu besar. Tidak ingin janji muluk tentang konsistensi sempurna atau hasil yang cepat. Cukup satu langkah kecil: menulis lagi. Pelan-pelan. Dengan jujur. Tanpa beban harus terlihat hebat.


Karena mungkin, menulis bukan soal seberapa cepat sampai, tapi seberapa lama kita mau bertahan. Dan mungkin juga, mimpi yang tertunda bukan mimpi yang gagal. Ia hanya menunggu waktu yang lebih tepat—saat kita sudah cukup siap untuk kembali.


Jika hari ini adalah hari untuk memulai lagi, maka itu sudah lebih dari cukup.