Selasa, 17 Februari 2026

Ramai yang Tidak Bertemu

Warung kopi selalu ramai menjelang sore.

Kursi-kursi berhimpitan. Suara tawa bertabrakan dengan denting sendok. Mesin kopi mendengus seperti napas orang kelelahan. Semua orang seolah berlomba mengisi waktu—berbicara cepat, bergerak cepat, hidup cepat.

Aku duduk di sudut dengan perasaan yang saling bertentangan. Di sekelilingku dunia berisik terus bekerja, tetapi di dalam kepalaku ada dunia lain yang lebih riuh.

Mereka tertawa.

Aku berpikir.

Mereka memesan minuman.

Aku menimbang hidup.

Di tengah keramaian itu, setiap orang sibuk dengan dunianya sendiri. Ada yang menatap ponsel seakan takut kehilangan sesuatu. Ada yang berbicara keras, seolah ingin diingat oleh seluruh ruangan. Ada yang diam, tetapi matanya berjalan ke mana-mana.

Aku hadir di antara mereka—bernapas dalam udara yang sama—namun seperti berada di alam berbeda.

Kadang aku berpindah dari satu dunia ke dunia lain: dari suara nyata ke suara batin, dari aroma kopi ke ingatan, dari wajah-wajah asing ke pikiran yang tak pernah benar-benar tenang.

Kopi hitam manis itu kuseruput pelan. Aromanya naik ke hidung, pahitnya singgah di lidah, manisnya datang belakangan—seperti hidup yang jarang berjalan lurus. Cangkir itu menjadi penanda bahwa aku masih ada di bumi yang sibuk ini. Bahwa aku bukan sekadar pikiran yang melayang di kepala sendiri.

Di sela hiruk-pikuk, aku tenggelam dalam tulisan. Kadang menjadi penulis yang mencipta dunia. Kadang hanya penebak cerita—menerka hidup orang-orang di meja sebelah: pasangan yang diam terlalu lama, lelaki yang tertawa terlalu keras, perempuan yang berkali-kali memeriksa jam.

Setiap orang membawa cerpennya sendiri.

Dan aku berada di antaranya.

Ada saat aku begitu sadar akan keberadaanku. Ada saat aku hilang di tengah keramaian. Dunia terasa penuh, tetapi hatiku justru sepi.

Ketika senja merayap di kaca jendela, aku sadar cangkirku telah kosong. Suara masih ramai. Tawa masih bertabrakan. Hidup masih berlari.

Aku berdiri pelan. Sesaat aku bingung—seperti lupa arah pulang. Terlalu lama berada di antara dua dunia: dunia nyata yang riuh dan dunia batin yang sunyi.

Lalu aku melangkah pergi.

Meninggalkan warung kopi yang terus bernapas tanpa peduli siapa yang datang dan siapa yang pergi.

Perasaan itu masih ada—

berisik namun hening,

penuh namun kosong.

Kadang aku berpikir, mungkin kita semua seperti pengunjung warung kopi itu. Datang membawa dunia masing-masing, duduk berdekatan tanpa benar-benar bertemu. Ramai di luar, riuh di dalam kepala. Lalu pulang dengan perasaan yang tak sempat dijelaskan.

Mungkin hidup bukan soal selalu dimengerti, melainkan tentang terus hadir—menyeruput hari demi hari, meski rasanya kadang pahit, kadang manis, sering campur aduk.

Dan mungkin, selama kita masih bisa merasakan semua itu, kita belum benar-benar hilang.

Besok sore, mungkin aku akan kembali lagi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar